Memilih JK

Tak pernah sebelumnya saya merasa antusias ke TPS. Sampai tadi pagi saya membubuhkan contreng pada pasangan nomer tiga. Saya tahu dan sadar pilihan saya tidak akan menang. Analisis manapun akan menempatkan SBY pada posisi pertama. Tapi saya tidak mau menyesal hingga lima tahun ke depan ketika saya harus mendukung SBY sebagai presiden. Tanpa melakukan usaha untuk merubah hal itu.

Saya teringat iklan JK, versi dukungan Sujiwo Tedjo. Saya pernah berjumpa dan berbincang dengan seniman yang rela memotong rambutnya demi mendukung film CaPres yang diperankannya. Saya penggemar lagunya. Saya kenal idealismenya. Musiknya mengukuhkan diri sebagai seorang yang tak mudah terseret arus. Maka ketika dia memberi dukungan pada JK saya sepenuhnya yakin dia sudah menganalisis dan memiliki alasan untuk melakukannya. Sahabat saya, Muhajir, tiba-tiba juga menjadi antusias untuk mendukung JK. Dalam beberapa kesempatan kami berbincang tentang mengapa memilih JK.

Muhajir gendeng, begitu saya memanggilnya. Gendeng ini jangan diartikan sebagai sesuatu negatif. Dari awal saya melihatnya melakukan pentas monolog Mutung di ospek, saya tahu dia orang “berbeda”. Saya bersahabat dengannya, membaca buku bersama, berdiskusi, makan bersama, hingga demo bersama. Berbeda, karena kami sama-sama percaya ruang kuih bukan segalanya. Alam raya menyediakan ilmu tiada habisnya, itu yang membuatnya berbeda. Hajir juga bukan orang yang gampang mengambil keputusan. Dia memiliki pertimbangan. Saya tidak bertanya langsung mengapa dia mendukung JK, tapi saya tahu dia punya alasan. Demikian juga saya.

Awalnya saya hanya takut melihat SBY memutuskan menggandeng Boediono, tokoh netral non parpol. Oh betapa, Demokrat berusaha mengantikan Golkar pada era orde baru. Menjadi satu-satunya partai yang menguasai puncak kepemimpinan. Sikap SBY yang selalu mencari garis aman tidak pernah menarik simpati saya. Zona aman seringkali melenakan, saya takut jika pada saatnya saya dipimpin oleh presiden yang tak mampu bergerak cepat.

Saya ini korban sakit hati berulang kali atas beberapa sikap PNS. Pegawai yang digaji dari pajak yang saya bayar adalah cermin pemerintahan kita. Zona nyaman membuat mereka seenaknya bekerja. Saya berharap ada perubahan sikap kepemimpinan sehingga bisa mendorong elemen masyarakat bergairah untuk mengerjakan tugas sebaik-baiknya. Jadi jelas tidak mungkin saya memilih SBY jika itu harapan saya.

Juga tidak mungkin bagi saya untuk memilih Megawati. Bukan karena gender, saya tidak masalah dipimpin presiden wanita. Tapi, saya kehilanagn hutan di Blora saat pemerintahan Mega. Polisi tak ada aksi hanya melihat pohon-pohon jati diusung oleh orang-orang beringasan. Saya ingat saya menangis saat melintasi hutan yang biasanya saya lewati ketika hendak ke sekolah tiba-tiba telanjang dan panas. Kondisi chaos dimana-mana ketika Mega menggantikan Gus Dur mwnjadi presiden.

Saya belum pernah membaca jurnal tulisan Megawati. Bagi saya pemimpin harus bisa menulis sendiri. Bukan dituliskan orang lain. Dan Mega tidak memenuhi syarat untuk saya pilih. Bagi pendukung Mega, maaf jika saya terlewat bila Mega pernah menulis untuk umum.

Baik, saya tidak mengenal JK juga awalnya. Awalnya saya berfikir kalau JK jadi presiden maka dijuallah semua. Seluruh progam akan dihitung ada keutungan materi. Jadi awalnya saya masih berfikir untuk golput.

Owi, sahabat saya, adalah orang yang pertama kali tegas menyatakan dukungannya terhadap JK. Saya tanya alasannya. Mulailah saya tertarik, bukan pada JK, tapi tertarik mencari tahu siapa JK.

JK, pemimpin kedua itu, ternyata menyimpan prestasinya. Kalau JK sombong pasti sudah dari dululah JK memamerkan ketegasannya dalam memimpin, menyelesaikan masalah, dan mendorong kemandirian warga. Saya sadar JK dibesarkan oleh Golkar partai yang menjadi momok atas luka orde baru. Tapi, JK juga sering bersebrangan dengan “orang lama” di Golkar, perubahan selalu harus disertai dengan rasa ketidaknyamanan. Jika JK sendiri  berani menantang dan  mengambil resiko mengapa saya tidak? Satu-satunya yang abadi di dunia ini adalah perubahan. Kita harus berani keluar dari zona nyaman, untuk berubah, menjadi lebih baik.

Baik, saya akui, saya juga tidak yakin bahwa JK akan menjaga teguh janjinya jika terpilih. Tapi JK memberi harga diri bagi saya sebagai bangsa. Jika Pram mengatakan, orang yang tidak bekerja itu sama saja sudah mati, maka saya mendapatkan semangat yang sama ketika akhirnya memutuskan untuk memberikan  suara pada JK.  Kita butuh pemimpin yang berani mengajak mandiri, dengan bangga atas kemampuan sendiri.

Saya sudah kecewa sejak malam sebelum saya berangkat ke TPS. Saya tahu JK tak akan menang. Karena rakyat Indonesia masih cendurung memilih kewibawaan pemimpin. Tubuh gagah, santun, sopan, kalem, dan nggak neko-neko adalah pilihan yang mendominasi pilihan masyarakat.

Tapi saya tetap optimis melangkah. Setelah mandi, bahkan keramas, dan berbenah saya berangkat ke TPS. Saya teleon ibu saya, meminta suaranya diberikan pada JK. Tentu saya harus berbincang lama untuk menjawab pertanyaan ibu saya, mengapa? SMS dari Kia, sahabat saya, melakukan hal sama. Meminta saya memilih JK. Ya, dan saya memilihnya.

Saya tidak merasa kalah, saya menang karena hari ini saya berangkat ke pesta rakyat dengan harapan akan ada perubahan. Jika saya memilih pasangan yang kalah bukan berarti saya kecewa.

Ibu saya di seberang telepon bertanya, mengapa pilih orang yang kalah? Saya menjawab “JK adalah pilihan terbaik saat ini. Tapi kita harus mendukung SBY sebagai pemenang, jika memang menang. Pilihan lain itu juga bentuk dukungan pada SBY, supaya tidak menang mutlak kemudian sombong. Jangan sampai tumbuh bibit gigantisme penguasa baru,” kata saya. Jawaban ya, dari ibu saya, adalah kemenangan saya pula. Ibu saya orang yang cerdas karena itulah sebelum dan setelah memilih JK, beliau meminta alasan kepada saya.

Saya tetap mengangkat topi untuk usaha bersama memenangkan JK. Pada JK, saya tetap mengaguminya. Tak ada yang sempurna, begitupun SBY dan masyarakat kita. Jika suara mayoritas condong kepada SBY maka saya akan tetap mendukungnya.

Terimakasih Bangsa, Terimakasih Bangsa, Terimakasih JK!

Untuk menghibur Ulin, teman berangkat ke TPS, yang sebentar lagi dilamar. Tak perlu menyesal mimilih JK, kita adalah pemenang.

Suami Romantis

Ast : Aku nggak tahu bagaimana bisa menunjukkan kemesraan pada istriku, aku orangnya sederhana.
Aku : Cintai saja dengan cara sederhana, itu cukup romantis.
Ast : Tapi apa dia tahu kalau aku romantis jika hanya diam saja?
Aku : Percayalah istrimu cukup cerdas untuk melihat keromantisanmu.
Ast : Dia nggak cerdas kok.
Aku : Kalau dia nggak cerdas, kau nggak bakal menjadikan dia jadi istrimu to?
Ast : Mungkin dia hanya pura-pura bodoh untuk mengukuhkan aku sebagai lelaki. Secerdas apapun wanita, lelaki selalu ingin dia di bawahnya. Karena lelaki butuh ego untuk dikatakan sebagai seorang yang pintar.
Aku : ???????????????????!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!****88kdhte ouctheumtcneutgnemt

Jakarta, 5 April 2009

Bisikan Ibu

Aku mendengar panggilanmu

Pulanglah nak

Tak cukupkah segala warna yang kau kumpulkan di luar sana?

Aku ingin mendengar ceritamu

Tentang angin yang mengantarmu menggembara, meninggalkanku sekian lama


Dinding-dinding rumah tetangga berbincang

Samar terdengar

Gelisah mengantar pada setiap peraduan

Aku mendengar gelisahmu

Menutup rapat setiap celah dinding yang bersuara dengan nyanyian warna yang kuceritakan padamu


Bening kelopak dua mata berbincang

Kesekian kali

Pulanglah nak,


Aku mendengar senandung rindu

Dikisahkan pada peluk cium

Terakhir kali, ciuman di pipiku lama sekali

Hiasan kau selipkan di seluruh tubuhku

Mengikatku menjadi anak perempuanmu


Pintu tak terkunci

Aku pergi lagi

Dalam bisikan, aku mendengarmu

“Bagaimana bisa aku menahanmu, sedang kau adalah mimpiku,”

Dimana Duka

Dimana kuletakkan duka

Entah dimana, aku mencarinya. Enam jam lalu aku berduka.

Merasa hampa, impianku berubah jadi uap.

Kupandang sekejab lalu pergi. Tak kasat mata lagi. Keringat dingin menyergapku saat uap itu berpamitan padaku.

Kulemparkan duka pada siapapun yang mau dan mampu menampungnya.
Derap nafasku berpacu menemukan luka lain dalam waktu yang tak lama.

Entahlah ini harus kusebut duka atau kebahagiaan.

Jika Tuhan memberi jawaban tak seperti yang kau inginkan, apakah ini layak disebut luka? Hanya pengalihan sementara atas jawaban yang kuharapkan.

Dan ketika kebohongan, satu-satunya dosa di dunia menurut Baba, ayah Amir Jan dalam The Kite Runner, terkuak aku berharap itu tidak benar.

Karena saat dia berkata jujur, ada harapan yang dibawanya pergi dariku. Entah keberapa kali dalam hidupku hal itu terjadi.

Deru laku kehidupan mengambil rasa duka itu. Dua orang menghiburku dalam paruh waktu 60 menit setelah kejujurannya.

Kejujuran yang aku tahu, berat baginya mengatakannya, merenggut kembali satu mimpiku.

Dimana duka? Sedang roda kehidupan, tak mengijinkanku mengecapnya.

Aku KAMU

Aku bersandar padaMU karena kau tahu kelemahanku
Aku angkuh padaMu karena aku tahu KAU tak membutuhkanku
Aku menjauh dariMU
berjalan ke arah berlawanan denganMU
KAU berpaling dariku, meninggalkanku sendiri
diam
Aku berdiri bukan karena aku takut
Aku membungkuk mengucap namaMU bukan karena hormat
Aku bersimpuh bukan karena KAU
Aku memilihmu, aku membutuhkanmu, aku haus kasihmu
sudah cukup jauhkan pengembaraanku?
Mencari jalan pulang padaMU
Ya kekasih, sampai batas mana cintaku akan KAU uji?
Kaulah pemegang janji

Pemimpin itu Bakat atau Proses?

Aku masih tak percaya bahwa pemimpin dilahirkan. Tapi Ulin, teman kosku, kekeuh mempercayainya. “Bakat menjadi pemimpin adalah karunia yang sdh digariskan Sang Pencipta,” katanya. Dengan sentuhan lingkungan, bakat tersebut akan terasah dan semakin tajam.

Aku adalah pumuja proses, percaya bahwa segala sesuatu bisa dipelajari. Dan barang siapa setia pada proses hidupnya tidak akan sia-sia, itulah kepercayaanku. Seorang pemimpin, bagiku juga sama. Buah dari proses.

Tapi belakangan ini aku meragukan kepercayaanku itu. Entahlah….. Jika memang proses, mestinya setiap orang punya kesempatan yang sama untuk menjadi seorang pemimpin. Tapi yang terjadi tak begitu, tidak semua orang bisa dan mampu jadi pemimpin. Bukankah tidak mungkin ada dua loko yang menarik puluhan gerbong kecuali salah satu loko rusak. Itupun artinya hanya ada satu loko yang memimpin perjalanan.

Pemimpin selalu terbatas jumlahnya. Mereka memilki kelasnya sendiri. Sedangkan gerbong, tentu hanya berlaku sebagai pengikut. Mungkinkah selamanya akan begitu? Apakah ini juga takdir, seseorangpun ada yang ditakdirkan tak menjadi pemimpin.

Bukan bermaksud narsis, aku hanya mengingat masa lalu dan mengukur takdirku. Terlahir sebagai pemimpin, pengikut, atau justru pecundang?

Saat SD secara akademik aku selalu nomer dua, teman sebangkuku Weni, juara pertama. Tapi gadis Tionghoa itu tidak pernah bisa mengalahkanku dalam pergaulan. Dari SD, aku sudah banyak ide dan protes. Yang kuingat saat latihan upacara untuk hari Senin aku menolak jika selalu diposisikan sebagai pembaca doa, pengibar bendera, dirigen, atau pembaca UUD 45. Terlalu biasa, menurutku. Masih bayang saat upacara dulu bukan?

Pada saat aku merasa jengah, aku meminta posisi pemimpin upacara. Dan disetujui oleh guruku. Hem, aku tahu posisi inilah yang paling tepat untukku. Tentu aku juga merombak pemimpin pasukan, kuminta teman perempuan yg lain. Bolehlah ini disebut bias gender, karena aku ingin pengalamanku tak hanya dirasakan olehku. Lagipula kasihan jika teman laki-laki jadi pemimpin pasukan harus menghormat kepadaku, sang pemimpin upacara. Wuahahahaha. Dan Weni tetap sebagai pengibar bendera.

Pengalamn lain saat SD yang kuingat adalah penghuni kelasku masing-masing memiliki latar belakang ekonomi yang berbeda. Kali ini Weni tetap di urutan pertama. Setiap tahun dia selalu membawa kue tart dan berbaju Cinderala di kelas. Soal jajan, semua punya standart masing-masing. (baca : sesuai kantong).

Aku sering memperhatikan teman-teman yang bernasib sama denganku, jajan kelas pinggir. Beberapa bahkan jajannya hanya seminggu sekali setelah upacara. Tahu apa yang kulakukan?

Kubuatlah arisan jajan. Setornya nggak pakai uang, tapi jajan. Dikocok seminggu sekali. Jadilah ada pembauran jajan di arisan ini. Jajan pinggiran juga agak ke tengah bahkan sampai atas semuanya ada. Karena aku tak mebatasi harga jajan yang disetor, yang penting ikut satu,maka harus setor satu jajan. Tidak ada yang protes jika hanya setor jajan pinggiran, tapi yang bisa jajanan mahal tidak lantas ikut-ikutan setor jajan pinggiran. Mereka membeli jajan untuk bayar arisan sesuai dengan selera dan kemampuan kantong masing-masing.

Aku senang menikmati wajah temanku yang akhirnya bisa makan jajan tengah bahkan kelas atas.

Sampai sekarang aku bingung, bagaimana ide itu Muncul? Kenapa temanku yang lain tidak memiliki ide yang sama denganku? Benarkah pemimpin dilahirkan?

Aku masih ingat betul, saat SD aku memboikot guru ngajiku karena hanya mengajari cara membaca huruf Arab. Al Quran, bagiku hanyalah kumpulan huruf yang tidak kumengerti maksudnya. Jadi kenapa mesti dilanjutkan membacanya? Demi boikot ini, aku membuat pengajian tandingan dengan guru ngajiku.

Pengajian membaca arti Juz Amma dilakukan sore, karena malamnya ngaji membaca huruf arab tetap berlangsung. Hahahaha, angkuh bukan? Tapi sekali lagi, aku tak tahu bagaimana aku menemukan ide itu, dan kenapa ada saja teman-teman yang mau mengikuti ideku? Itu sewaktu masih SD.

Sebenarnya aku masih punya banyak cerita, tapi terlalu panjang jika harus dituliskan semuanya. Pemimpin bagiku adalah orang yang sanggup melihat kepentingan bersama lebih diatas kepentingan pribadi. Pemimpin adalah pemilik ide utnuk keluar dari permasalahan yang dihadapi komunitas. Berani berjalan di depan untuk memulai ide, bertanggungjawab atas resiko perjalanan ide. Dan yang pasti pemimpin adalah orang yang dipercaya dan diikuti langkahnya. Sampai sekarang aku tetap tak percaya bahwa pemimpin dilahirkan. Dengan segala kebutuhan dan tuntutan, pemimpin adalah pribadi yang ditempa oleh kehidupan.

tapi sampai sekarang aku masih bingung bagaimana ide pemimpin upacara, arisan jajan, dan pengajian arti juz amma itu sudah singgah sebelum aku genap 10 tahun. Dan teman-temanku kenapa mau bergabung di ideku. Aku tak tahu. Jadi pemimpin terlahir atau proses?

Aku akan Pulang

Tidak pernah perasaanku bahagia sekali menjelang rencana pulangku. Biasanya, aku pulang sebulan sekali, itupun jika memang ada acara di rumah. Jika memang ada hajat, atau berita duka. Kerinduanku tidak pernah menggebu.
Minggu depan aku akan pulang, bukan karena di rumah ada hajat. dan semoga juga tidak ada berita duka. Aku pulang, demi 1.000 Wajah Pram. Festival yang digelar untuk mengenang 1.000 hari Pramoedya Ananta Toer.
Awalnya seorang sahabat menyapaku di Facebook, bertanya transportasi dan akomodasi ke Blora. Heran, buat apa jauh-jauh dari Surabaya ke Blora? Sedih, baru aku tahu ada festival 1.000 Wajah Pram tanggal 1-7 Februari.
Langsung googling tentang acara itu.Wuahhh ada penampilan kerawitan cilik dari Desa Pelem, Doplang. (Itu desaku, red) dan pementasan drama dari SMA N 1 Randublatung tempat aku sekolah dulu. Semangat langsung menysun agenda pulang.
Kebetulan juga Minggu ada acara kampus, Pelatihan Jurnalistik. Lumayan untuk dua agenda pulang. Hiks hiks, ibuku pastilangsung protes karena aku pulang dengan banyak agenda. But, i will go home. Aku tak sabar… Siapa tahu ketemu jodoh di sana, hehehehe*ngarep!!!*

Wawancara yang Tersisa

Guru Abadiku

Sengaja googling untuk wawancara Play Boy dan Pramoedya Ananta Toer. Entah sudah berapa kali kulakukan. Aku suka sekali membacanya, jadi kuputuskan menyimpannya juga di halamanku. Perkenalkan guru jiwaku Pramoedya Ananta Toer. Bukan karena kami sama-sama kelahiran Blora, lalu aku mengangkatnya menjadi guru. Karena karyanya menyentil setiap orang yang bernurani… Merasa beruntung telah mengenalnya dalam hidupku.


KELAHIRAN 6 Februari 1925 ini amat mengimani kerja. Menganggap kerja sebagai eksistensi abadi bagi manusia. Dan dihati Pramoedya Ananta Toer kerja adalah menulis. Maka menulislah ia. Dalam Rumah Kaca Pram pernah mencatat: “…gairah kerja adalah pertanda daya hidup; selama orang tak suka bekerja sebenarnya ia sedang berjabatan tangan dengan maut…” Merokok tanpa putus sejak umur 15 tahun, lahirlah tetralogi yang legendaris itu [Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Rumah Kaca, dan Jejak Langkah]. Juga judul-judul seperti Mangir, Arok Dedes, Arus Balik, Nyanyi Sunyi Seorang Bisu, dan banyak lagi. Semuanya memiliki kesamaan: menggetarkan dunia. Nominasi Nobel bidang sastra beberapa kali mencatat namanya. Pengalaman hidupnya seolah ditakdirkan dramatis [layaknya orang-orang besar].

Pernah jadi pihak yang menekan saat Lekra [Lembaga Kebudayaan Rakyat, organisasi kesenian underbow PKI] berjaya. Lantas tersuruk jadi tahanan politik selama 14 tahun 2 bulan tanpa pengadilan disusul status tahanan rumah. Juga menyaksikan dengan sesak karya dan harta literaturnya dibakar militer [sampai kini dia masih tak mengerti, karena merasa dasarnya menulis adalah satu: kemanusiaan]. Pun pelarangan terhadap tulisan-tulisannya.

Karya-karya Pram tak banyak mengutak-atik keindahan bahasa, longgar, dan kerap kelam meski tengah mengekspresikan keriaan hidup, seperti seks. Dalam penutup satu bab di Bumi Manusia, Pram menulis perasaan Minke tentang persetubuhannya dengan Annelies: “Aku balas pelukannya. Dan tiba-tiba jantungku berdeburan diterpa angin timur. Satu ulangan telah memaksa kami jadi sekelamin binatang purba, sehingga akhirnya kami tergolek. Sekarang gumpalan hitam tidak memenuhi antariksa hatiku. Dan kami berpelukan kembali seperti boneka kayu.” Sebagai penulis Pram menganggap keindahan terletak pada kemanusiaan, perjuangan untuk kemanusiaan dan bebas dari penindasan. Bukan dalam mengutakatik bahasa.

Pengagum sastrawan Gunther Grass dan John Steinbeck ini mengaku begitu produktif berkarya karena merasa tidak akan berumur panjang. Kenyataannya pada usia 81 tahun dia masih mengepulkan asap rokok saat ditemui Feature Editor PLAYBOY Alfred Ginting dan Soleh Solihun, di rumahnya yang asri, di kawasan Bojong Gede, Jawa Barat. PLAYBOY ditemani Happy Salma yang sore itu membawakan sebotol wine untuk penulis yang dikaguminya itu. Setiap malam Pram menenggak satu dua sloki wine demi kesehatan jantungnya.

Seperti yang sudah-sudah wawancara ini kembali banyak menjelajah sikap politik Pram, tidak seperti keinginan kami untuk membongkar sikap sastranya. Pram sulit diajak untuk mengomentari karya-karyanya. Pram menganggap karya-karya itu sebagai anak-anak jiwanya. Mereka bebas terbang lepas setelah didewasakan oleh pena dan mesin tiknya. Selain itu usia membuat Pram berjarak dengan masa lalu kepengarangannya. Di rumah – hasil dari royalti bukunya yang telah diterjemahkan ke 42 bahasa – Pram tak lagi banyak bekerja. Sudah sepuluh tahun dia tidak menulis, semangatnya dipatahkan umur tubuhnya. Saban hari dia bangun jam lima pagi, mengumpulkan kliping berita koran bertema geografi untuk cita-citanya yang tidak akan terwujud – menyusun apa yang dia sebut Ensiklopedi Kawasan Indonesia, sesekali menerima tamu, melihat-lihat ternak ayam dan angsanya, dan membakar sampah.

Pada meja bundar di ruang tamu rumahnya, Pram menjawab pertanyaan PLAYBOY. Di meja itu bertumpuk sejumlah buku. Yang menarik perhatian adalah fotokopi novel Gulat di Djakarta yang akan diterbitkan kembali oleh penerbit Lentera Dipantara. Pram mengenakan polo shirt lusuh, celana training biru dan sandal jepit. Kaos kaki sepakbola berwarna hijau menutup ujung kaki celananya. “Dingin kaki saya,” kata dia. Pram masih menunjukkan kekukuhan dalam argumentasi dan pemakluman atas sikapnya. Seperti tentang pendiriannya terhadap Soekarno sebagai pemimpin yang berhasil mempersatukan bangsa Nusantara tanpa meneteskan darah. Padahal di zaman rezim Soekarno dia ditahan karena menulis Hoakiau di Indonesia. “Yang memenjarakan saya itu militer. Bukan Soekarno,” tegasnya.

PLAYBOY: Di film Jalan Raya Pos, Anda mengatakan tidak yakin akan berumur panjang. Ternyata, sekarang berumur 81 tahun, bagaimana perasaan Anda?

PRAMOEDYA: Tahun ‘50, TBC membunuh ayah, ibu, adik, nenek, ipar, kemenakan saya. Waktu itu belum ada obatnya. Yang tahu, obatnya kapur saja. Untuk menutupi luka. Jadi, sudah sejak sangat muda, sudah berhadapan dengan maut. Dan saya sebagai anak tertua dengan tujuh adik menanggung semuanya. Ada seorang professor mengatakan, ‘Kau nanti juga kena [TBC].’ Tapi ternyata, sampai sekarang nggak ada apa-apa. Saya nggak ada penyakit parah, cuma kesulitannya kalau nggak bisa tidur, itu lantas jatuh, drop saja. Nggak pernah menyangka. Keluarga saya praktis mati karena TBC. Saya nggak pernah ketularan. Sepanjang hidup saya heran, kok bisa sampai 81.

PLAYBOY: Masih punya mimpi?

PRAM: Saya nggak punya mimpi apa-apa. Masalah saya sekarang, hanya mati saja. Saya sudah sepuluh tahun nggak menulis. Juga nggak jawab surat. Ini sudah nggak bekerja [menunjuk kepala]. Sudah pikun.

PLAYBOY: Mimpi untuk menuliskan kembali proyek yang dulu sempat dimusnahkan, seperti Ensiklopedi Indonesia?

PRAM: Ya, kliping saya sudah 8 meter panjangnya. Tapi biayanya melanjutkannya nggak ada. Nggak ada pemasukan yang beres. Paling sedikit lima orang diperlukan. Kalau satu orang dua juta, sepuluh juta satu bulan. Dari mana sumbernya?

[tertawa].

PLAYBOY: Anda angkatan ‘45. Kalau nanti dimakamkan di Taman Makam Pahlawan bagaimana?

PRAM: Ah saya nggak mengharapkan begitu-begituan. Mau dibakar kek, mau dibuang kek, nggak soal.

PLAYBOY: Anda siap menghadapi kematian?

PRAM: Sejak muda, saya siap mati di manapun dan kapan pun. Nggak ada soal. Jadi, nggak punya beban tentang mati.

PLAYBOY: Tidak ada yang Anda takuti dalam hidup?

PRAM: Saya anggap sebagai tantangan sport. Tidak punya dendam saya. Kalo punya dendam jadi beban lagi. Dianggap berani atau nggak, saya nggak tahu [tertawa].

Saya kehilangan apa saja, tidak merasa kehilangan. Rumah dirampas, perpustakaan dibakar, delapan naskah dibakar. Ini sampai rumah dijaili. Apanya yang salah, saya tidak tahu.

PLAYBOY: Kadar gula Anda masih tinggi?

PRAM: Oh, gula saya memang tinggi. 460. Tapi saya obati dengan bawang putih. Setiap suap makan, gigit bawang putih, jadi semua luka kering sendiri. Jadi, dagingnya nggak membusuk. Dan saya anjurkan itu untuk yang sakit gula. Saya kan juga latihan pernafasan kalau mau tidur. Tarik nafas sampai penuh, tambah lagi. Itu sportnya. Tahan baru buang. Belajar dari pengalaman saja. Mulai umur belasan tahun, setelah pisah dari keluarga.

HAPPY SALMA: Anda sepertinya punya harapan besar terhadap generasi muda?

PRAM: Betul. Soalnya sejarah Indonesia itu sejarahnya angkatan muda. Jangan lupa itu! Sejak tahun belasan, di negeri Belanda, menjalar ke Indonesia. Puncaknya di Sumpah Pemuda. Itu titik tolak jadinya negara kita. Saya anjurkan yang punya perhatian pada sejarah, susunlah sejarah Sumpah Pemuda sampai jadi buku wajib. Sejarah Indonesia, praktis nggak karuan diajarkannya. Saya percaya, sejarah Indonesia itu sejarah angkatan muda. Angkatan tua itu jadi beban.

PLAYBOY: Tapi sejarah Indonesia akhir-akhir ini harus diwarnai ancaman disintegrasi, seperti keinginan masyarakat Aceh dan Papua untuk memisahkan diri?

PRAM: Itu memang dialektika sejarah. Kalau ada yang baik, ada yang buruk. Ada persatuan, ada perpecahan. Hidup berkembang bersama-sama pasti ada yang namanya dialektika.

PLAYBOY: Soal gerakan pemuda, Anda sempat bergabung dengan PRD [Partai Rakyat Demokratik]. Sementara, gerakan pemuda sekarang terlihat melempem. PRD sendiri tidak terlihat arah organisasinya?

PRAM: Itu pimpinannya. Ketua organisasi itu, harus hidup, tumbuh, berkembang bersama partainya. Ini ketuanya [Budiman Soedjatmiko] lari, masuk ke PDI.

Dia mesti mimpin partainya, ini malah sekolah ke Inggris. Sekolah itu kan jalan untuk jadi pegawai. Untuk mimpin partai nggak perlu sekolah. Bangkit, jatuh, bangun, berkembang bersama partainya. Yang benar itu.

PLAYBOY: Tapi pendidikan dianggap penting bagi kepemimpinannya?

PRAM: Ah tidak. Kepemimpinan ya dari partainya itu, berpengalaman sejak awal sampai berkembang. Itu nggak perlu sekolah. Belajar dari keadaan. Menjadi pemimpin partai itu nggak perlu sekolah. Belajar dari keadaan. Sekolah saya, SMP kelas 2 nggak tamat, tapi kok jadi doktor? [tertawa].

PLAYBOY: Anda pernah menyebut Jimmy Carter berperan dalam pembebasan Anda. Itu bagaimana ceritanya?

PRAM: Itu Carter meminta supaya tahanan Pulau Buru dibebaskan. Kalau nggak, bantuan Amerika akan dihentikan untuk Indonesia.

PLAYBOY: Jadi, bisa dibilang Anda diselamatkan Amerika?

PRAM: Ya memang Amerika. Tapi juga Amerika juga yang waktu Presiden Eisenhower yang memerintahkan supaya Soekarno disingkirkan. Eisenhower ngomong begitu setelah babak belur di Vietnam. Ada masalahnya itu. Lantas dia perintahkan, singkirkan Soekarno! [tertawa].

PLAYBOY: Anda sudah beberapa kali disebut sebagai kandidat Nobel, tapi belum jadi kenyataan juga.

PRAM: Yang jadi kandidat itu kan empat orang yang terakhir. Satu orang dapat, saya nggak. Saya nggak tahu.

PLAYBOY: Apa itu ada hubungannya dengan sikap politik Anda dulu sebagai tokoh Lekra?

PRAM: Itu hak saya punya pandangan politik.

PLAYBOY: Tidak pernah berpikir, kalau mendapat Nobel itu bentuk pencapaian Anda sebagai penulis?

PRAM: Kalau dapat itu, berarti penghargaan dunia. Itu saja.

PLAYBOY: Tidak pernah bermimpi, ingin dapat Nobel sebelum meninggal?

PRAM: Nggak.

PLAYBOY: Jadi, penghargaan tertinggi dalam hidup buat seorang Pram?

PRAM: Penghargaan sudah saya dapat di mana-mana. Orang baca karya saya saja, sudah suatu penghargaan.

PLAYBOY: Dari semua karya Anda, yang merupakan pencapai-an terbesar yang mana?

PRAM: Nggak tahu saya. Itu publik yang menentukan.

PLAYBOY: Dalam karya Anda, banyak figur perempuan yang menentang garis. Itu memang gambaran Anda tentang figur perempuan modern?

PRAM: Itu inspirasi dari ibu saya sendiri. Ibu saya meninggal sangat muda, umur 34. Suatu kali, waktu saya masih di SD, panen jagung di luar kota, saya dipanggil ibu. Kalau serius, ibu saya ngomongnya dalam bahasa Belanda. Jauh lebih bagus dari saya. Dia pesan, ‘Engkau nanti harus belajar di Belanda sampai doktor.’ Itu beliau ngomong waktu saya masih SD dan miskin sekali. Itu pesannya. ‘Jangan sampai kau minta-minta sama orang. Pada siapapun! Jangan minta-minta. Selesaikan tugas dan kerjamu dengan tenagamu sendiri. Jangan minta-minta bantuan!’ Itu pesan ibu saya. Kenyataannya lain. Lulus SD, masuk SMP, Jepang datang, bahasa Inggris dilarang. Sampai [kelas] 2 SMP saya sekolah, itu pun nggak tamat, karena dibubarkan Jepang. Jadi, nggak pernah mendapat pendidikan bahasa Inggris. Setelah Jepang pergi, saya nggak bisa ke perguruan tinggi. Bahasa Inggrisnya tidak bisa [tertawa].

PLAYBOY: Di masa itu apa artinya jadi doktor?

PRAM: Ilmu pengetahuan. Jadi mencukupi sebagai orang terpelajar. Kalau belum dapat gelar, ya belum [tertawa].

PLAYBOY: Tokoh Minke dibuat berdasarkan riset Anda terhadap tokoh pers Tirtoadisuryo. Apa tokoh perempuan di sekitarnya memang dinspirasi dari perempuan di dunia kenyataan?

PRAM: Itu simbolik saja. Supaya jadi anutan pembacanya. Saya mengharapkan wanita itu lebih maju daripada sekarang ini. Karena dia yang mendidik bangsa. Waktu saya masih kanak-kanak, ibu-ibu itu memproduksi. Ada yang membatik, ada yang nenun, bikin sabun segala macam. Kok, sekarang nggak ada? Tidak berproduksi wanita, tampaknya ya. Waktu saya kecil, ibu saya nenun, bikin batik, segala macam, buat kecap, sabun, dijual. Jarang terjadi sekarang ini di rumahtangga. Sehingga jadi bangsa yang konsumtif, tidak produktif. Akibatnya melahirkan benua korupsi. Malah orang menjadi kuli. Untuk menjadi kuli itu, bayar mereka. Sampai Jerman mengatakan, Indonesia itu bangsa kuli di antara bangsa-bangsa dunia.

PLAYBOY: Apa arti perempuan buat Anda?

PRAM: Kalau saya melihat ibu saya, beliau yang membentuk saya jadi begini ini. ‘Jangan minta-minta. Selesaikan semua tugasmu dengan kekuatanmu sendiri!’ Luar biasa! Dalam keadaan miskin [tertawa]. Nggak pernah bertanggung jawab pada perbuatan sendiri

PLAYBOY: Begitu juga cara Anda mengarahkan anak Anda?

PRAM: Kalau untuk saya, silakan kerjakan apa yang dimaui. Tapi, tanggungjawab pada perbuatan sendiri. Cuma itu pesan saya. Bahkan jadi bandit pun silakan. Tapi tanggungjawab atas perbuatan sendiri. Jangan nyorong pada orang lain untuk tanggungjawab. Seperti Harto nanti [tertawa].

PLAYBOY: Dari tadi, cerita soal ibu terus. Lantas, bagaimana sosok ayah di mata Anda?

PRAM: Minus. Ayah saya itu Direktur Sekolah Boedi Oetomo. Saya sekolah disitu. Untuk tamat tujuh kelas, saya memerlukan sepuluh tahun. Tahu perasaan dia kan jadinya, terhadap anaknya? [tertawa]. Mengecewakan dia lah.

PLAYBOY: Karena Anda nakal?

PRAM: Sampai tua saya nggak bisa main gundu [tertawa]. Sampai tua, nggak bisa menaikkan layang-layang. Nggak sempat main. Kerja terus. Saya menulis untuk diterbitkan. Untuk dapat uang. Habis, dari mana uang? Melihara kambing juga, nyariin makan segala macam. Lantas dihina oleh murid-murid sekolah pemerintah.

Saya pernah mengadu sama ibu saya. ‘Bu saya dihina sama orang-orang sekolah pemerintah.’ ‘Kenapa kau dihina? Kamu berani kerja, mereka nggak.’ Ibu saya bilang. ‘Udah biar saja.’

PLAYBOY: Ayah Anda direktur sekolah tapi masih kesulitan keuangan ya?

PRAM: Direktur itu gajinya 17 Gulden setiap bulan.

HAPPY: Katanya anda sering membuat perempuan bule patah hati, benar?

PRAM: Banyak [tertawa]. Biasanya mahasiswi. Setiap negara, saya punya pacar.

Begitulah.

PLAYBOY: Pacar yang bagaimana? Yang sehari kenal?

PRAM: Iya [tertawa]. Ada yang mau ikut saya segala macam. Nyusul segala. Anak-anak Jerman itu…

HAPPY: Kenapa? Karena Anda ganteng atau pintar merayu?

PRAM: Nggak tahu [tertawa].

PLAYBOY: Kalau mendengar kata seks, apa yang terlintas di benak Anda?

PRAM: Kalau sekarang sih, nggak ada apa-apa. Kalau dulu, kebakaran [tertawa].

HAPPY: Saya jadi tergila-gila Kartini karena Anda. Kalau Anda kenapa tergila-gila Kartini?

PRAM: Kartini? Mestinya saya punya empat jilid tulisan tangan Kartini. Dibakar sama militer. Tulisan itu hasil studi lapangan. Menemui saudara-saudaranya. Malah saya punya buku keluarga, masih tulisan Jawa. Itu dibakar semuanya. Kartini, itu orang luar biasa. Mendirikan sekolah dengan tenaga sendiri. Dia satu-satunya perempuan dengan pendidikan Barat, waktu itu.

PLAYBOY: Tapi akhirnya dia menyerah pada keadaan, kawin dengan Bupati.

PRAM: Dia harus mendengarkan kemauan keluarga. Dan keluarga disuruh oleh Residen. Biasa waktu itu.

HAPPY: Menurut Anda, perempuan itu yang penting cantik atau pintar?

PRAM: Bagaimana dia membentuk dirinya saja. Belajar hidup.

PLAYBOY: Dalam Mereka yang Dilumpuhkan, Anda menulis perempuan Sunda harganya paling tinggi. Maksud Anda?

PRAM: Itu karena perkebunan-perkebunan teh Jawa Barat banyak dikuasai Belanda. Akhirnya anak-anaknya banyak yang jadi Indo [setengah bule].

HAPPY: Dari semua negara yang pernah Anda kunjungi, perempuan mana yang paling cantik?

PRAM: Dari Cina [tertawa].

PLAYBOY: Ada apa dengan perempuan Cina? Apa karena Cina di masa muda Anda adalah Cina yang sedang membentuk jati diri nasionalismenya?

PRAM: Di antaranya. Dinamika dalam masyarakatnya.

PLAYBOY: Dalam Hoakiau di Indonesia Anda membantah anggapan sebelumnya tentang kolonialisme mengistimewakan masyarakat etnis Cina. Sekarang, etnis Cina teristimewakan secara ekonomi tidak?

PRAM: Mereka itu punya produktivitas yang lebih dari pribumi. Ini yang membuat mereka jadi bersinar. Bukan hanya Cina di sini. Cina di negerinya sendiri. Produktivitasnya lebih hebat.

PLAYBOY: Pernah merasa malu jadi orang Indonesia?

PRAM: Saya bangga jadi orang Indonesia. Sebab seorang diri saya menulis. Dan itu yang mendapat berkahnya bangsa. Saya nggak merasa kecil hati sebagai anak bangsa. Saya merasa berjasa. Karya sudah diterjemahkan.

PLAYBOY: Tapi Anda diasingkan ke Pulau Buru tanpa ada pengadilan dulu?

PRAM: Bukan suatu kesalahan jadi anggota Lekra.

PLAYBOY: Kekuasaan belum berpihak pada kesejarahan yang benar, berarti bangsa ini akan tetap begini?

PRAM: Itu bagaimana yang membuatnya saja. Sejarah itu kan, pribadi-pribadi yang bikin. Terserah yang bikinnya saja. Ya kalau kekuasaan nggak memperhatikan sejarah, publik yang memperhatikan. Itu nggak bisa dilarang, hak publik. Setiap terpelajar mulailah mendokumentasikan sejarah. Supaya setiap saat punya bahan yang bisa dipakai. Tanpa dokumentasi, gerayangan saja. Dan mendokumentasi itu belum merupakan tradisi Indonesia. Mesti dimulai.

PLAYBOY: Kenapa Anda sangat bersemangat dalam hal sejarah?

PRAM: Lihat. Bangsa Indonesia itu praktis belum memulai mendokumentasi sesuatu. Bagaimana tahu sejarah? Wong sumbernya di situ. Mendokumentasikan berita koran, belum jadi tradisi. Saya mulai memang, tapi belum jadi tradisi. Kita nggak belajar dari Barat. Kurang belajar dari Barat. Sehingga tentang Indonesia, orang Barat yang nulis. Yang perlu itu, kebutuhan untuk jadi bangsa yang modern. Bahkan kita nggak memerlukan tradisi warisan nenek moyang sendiri. Semua menjadi beban. Lebih baik dibuang saja. Saya sendiri sudah membuang Javanisme dalam diri saya.

PLAYBOY: Tapi kan manusia suka romantisme masa lalu?

PRAM: Itu hak setiap orang untuk suka ini, suka itu. Tapi, perlu atau nggak. Yang kita perlukan itu yang akan datang. Dan ini perlu kesiapan.

PLAYBOY: Apa hal dari Kejawaan yang anda rindukan? Wayang misalnya?

PRAM: Saya nggak suka wayang. Pertama, itu bukan Jawa, tapi India. Wayang sudah berhenti sejak umur 17-an, karena nggak ada. Saya pindah ke Jakarta kan nggak ada. Saya ingin mendengar gamelan. Itu ada kasetnya, tapi nggak ada yang memasangkan.

PLAYBOY: Kenapa gamelan?

PRAM: Rindu saja. Itu sejak kecil musik saya gamelan. Gamelan itu merupakan mahkota. Saya puluhan tahun nggak dengar gamelan.

PLAYBOY: Banyak yang menganggap dalam Arok Dedes, Ken Arok sebagai simbolisasi karakter Soeharto. Apa yang sama dan apa yang tidak?

PRAM: Lho nggak tahu saya. Siapa yang bikin? Bukan saya yang membandingkan.

PLAYBOY: Menurut Anda, sama?

PRAM: Soalnya bukan sama. Harto masih hidup, Arok sudah nggak ada [tertawa].

PLAYBOY: Mungkin orang melihat kesamaannya, dalam pengkhianatannya?

PRAM: Soeharto orang yang nggak mau bertanggungjawab terhadap perbuatannya sendiri, sampai sekarang. Perebutan kekuasaan saja.

PLAYBOY: Tidak ingin bertemu Soeharto?

PRAM: Nggak mau saya. Tapi dia pernah kirim surat. Dia bilang, kesalahan itu manusiawi. Tapi kita harus punya keberanian untuk yang benar dan dibenarkan.

PLAYBOY: Bagaimana pandangan Anda terhadap penguasa sekarang?

PRAM: Saya nggak percaya sama yang berkuasa. Nggak tahu besok atau lusa. Sampai sekarang, saya nggak percaya.

Saya menulis untuk mengagungkan kemanusiaan,mesti menyingkirkan kekuasaan yang sewenang-wenang.

PLAYBOY: Pada kekuasaan seperti apa Anda akan percaya?

PRAM: Yang benar. Apa yang diinginkan rakyat. Persoalannya, kita ini, sesudah Soekarno, nggak punya pemimpin. Yang ada ngelantur ke mana-mana. Nggak ada pemimpin. Pemimpin, bukan pembesar. Angkatan muda yang begitu banyak berkorban, dari reformasi sampai menggulingkan Soeharto, kok nggak melahirkan pemimpin? Aneh sekali. Begitu banyak korbannya. Selama angkatan muda nggak melahirkan pemimpin, ya begini terus. Saya pernah anjurkan supaya angkatan muda membuat Kongres Nasional Pemuda. Supaya di situ terlihat siapa nanti yang bakal jadi pemimpin.

PLAYBOY: Orde Baru juga membangun gerakan pemuda dengan caranya sendiri. Kalau masih sebagai alat politis juga?

PRAM: Ini dunia. Bukan sorga. Ada yang baik dan yang jelek. Berkembang bersama-sama.

PLAYBOY: Menurut Anda sejarah kepemimpinan kita berhenti sampai Soekarno?

PRAM: Soekarno itu suatu contoh. Dia menguasai persoalan budaya, politik, geografi. Sekarang ini geografi nggak dapat perhatian apa-apa. Persoalannya, ini tanah air lebih banyak lautnya daripada daratnya. Itu sudah masalah. Dan kekuasaan di laut nggak punya. Kekuasaan di darat terus. Belum pernah ada pernyataan Indonesia itu negara maritim. Belum pernah ada.

PLAYBOY: Soekarno satu-satunya pemimpin ideal di mata Anda. Tapi, karena Hoakiau di Indonesia dia memenjarakan Anda.

PRAM: Oh yang memenjarakan saya itu militer. Bukan Soekarno.

PLAYBOY: Anda masih punya dendam terhadap militer?

PRAM: Saya nggak suka militer Indonesia. Itu grup bersenjata menghadapi rakyat yang nggak bersenjata. Kalau ada perang internasional, lari terbirit-birit. Karena biasanya yang dilawan rakyat tanpa senjata. Tapi saya nggak punya dendam kepada siapapun. Semua saya anggap tantangan sport. Saya menjawabnya, dengan menulis. Itu yang saya bisa. Dan sekarang sudah diterjemahkan ke dalam 42 bahasa karyakarya saya. Seluruh dunia, kecuali Afrika yang belum pernah diterjemahkan.

PLAYBOY: Mendendam kepada pembakaran dan perampasan karya Anda dulu?

PRAM: Wah, saya nggak bisa memaafkan. Yang dibakar aja delapan. Belum yang hilang di penerbit-penerbit. Nggak tahu kok, sejarah saya sejarah perampasan. Nggak ngerti saya. Ini pendengaran saya juga hilang. Ini kerjaan militer juga, yang bikin saya setengah tuli. Dihajar pakai popor senapan.

PLAYBOY: Anda sakit hati?

PRAM: Itu semua saya sekali lagi terima sebagai tantangan sport. Rumah dirampas sejak tahun ‘65 sampai sekarang. Nggak ngerti saya, orang kok bisa begitu. Dan perpustakaan yang dikumpulkan puluhan tahun, dibakar begitu saja. Saya nggak ngerti orang bisa begitu. Belum naskah asli delapan yang belum sempurna, dibakar. Ini nggak bisa saya maafkan.

PLAYBOY: Setelah itu habis, Anda pernah berusaha menuliskannya lagi?

PRAM: Nggak bisa. Mood-nya sudah lain. Nulis lagi nggak bisa. Perpustakaan dibakar. Salahnya apa? Saya mengumpulkan satu demi satu belasan tahun itu, tapi sekarang sudah ada lagi perpustakaan di lantai tiga, kalau mau lihat.

PLAYBOY: Pandangan Anda terhadap anak-anak Soekarno?

PRAM: Nggak ada istimewanya. Tidak seperti bapaknya. Ke sini pun pada nggak.

PLAYBOY: Anda dekat dengan Soekarno?

PRAM: Kadang-kadang ngajak ketemu. Dia juga tidak kenal saya. Pernah nanya, ‘Mas Pram Islamolog ya?’ [tertawa].

PLAYBOY: Ada anggapan negara ini terlalu besar untuk dipertahankan sebagai negara kesatuan. Menurut Anda?

PRAM: Ini secara geografi, Indonesia itu memang satu. Dulu namanya Nusantara waktu Majapahit. Waktu Singasari, Dipantara. Dipa itu benteng. Benteng antara dua benua. Nusantara, kepulauan antara dua benua.

PLAYBOY: Kalau Indonesia menjadi negara federasi?

PRAM: Itu terserah kehendak publik. Cuma, kalau federal ya aturannya jadi banyak sekali. Setiap daerah punya aturan sendiri

PLAYBOY: Anda juga sering protes soal nama Indonesia.

PRAM: Persoalannya yang menamai [Indonesia] itu Inggris.

PLAYBOY: Harusnya?

PRAM: Nusantara saja cukup. Atau Dipantara.

PLAYBOY: Katanya, Bumi Manusia sudah dibeli right-nya. Konon, Oliver Stone mau mengambil hak untuk filmnya. Kenapa Anda menolak?

PRAM: Cuma US$ 60 ribu [tertawa].

PLAYBOY: Tapi, Anda menjualnya ke seorang pengusaha Indonesia?

PRAM: Itu satu setengah milyar. Dan harus tunai.

PLAYBOY: Jadi persoalannya cuma karena harga.Tapi kan magnitude-nya berbeda kalau Hollywood yang membeli?

PRAM: Terserah pembuatnya saja. Saya nggak mencampuri itu. Haknya pembeli.

PLAYBOY: Selain Bumi Manusia, yang sudah dibeli film right-nya, apalagi?

PRAM: Ini yang sedang dalam pembicaraan itu, Mangir. Tapi saya nggak ingat siapa orangnya. Nama-nama dan angka sulit saya ingat.

PLAYBOY: Punya harapan terhadap film itu kalau jadi nantinya?

PRAM: Terserah. Itu hak pembeli.

PLAYBOY: Kalau karya Anda difilmkan, punya keinginan untuk menontonnya dulu sebelum meninggal?

PRAM: Sulit melihat saya. Nggak tahu ini mata, kok mengganggu saya.

PLAYBOY: Bagaimana Anda melihat kondisi penulis sekarang?

PRAM: Pengalaman hidup lain dari penulis-penulis baru ini. Jadi, rasa-rasanya ya kurang sreg gitu [tertawa].

PLAYBOY: Terakhir Anda baca apa?

PRAM: Wah sudah sulit saya baca. Paling koran dan kliping. Buku ya selintas saja. Matanya sudah sulit untuk melihat. Inilah anehnya jadi tua [tertawa]. Pikun. Kacamata dicari-cari tahunya dipakai.

PLAYBOY: Puisi?

PRAM: Nggak pernah. Satu puisi yang pernah saya baca, karya Chairil. Hidup saya prosais. Walaupun dulu pernah buat dua, tiga puisi. Nggak ada kesan. Kecuali karya Chairil yang “Aku”. Pada waktu itu pendudukan Jepang yang kejam sekali. Dan Chairil menantang kan. ‘Saya binatang jalang. Dari kumpulannya terbuang.’ Itu kan menolak Jepang. Dia nggak mau jadi budaknya Jepang. Sajak itu membuat ditangkap Polisi Militer Jepang. Tapi dilepas lagi. Luar biasa itu. Menantang kekuasaan militer Jepang.

PLAYBOY: Ada yang menganggap Chairil tidak bisa menulis, menurut Anda?

PRAM: Dia kan terlampau muda matinya. Saya pernah ketemu sekali saja di atas kereta api, di Karawang. Dia megangin tangan temannya. ‘Kau yang bertanggungjawab ya. Kau yang bertanggungjawab ya.’ Mungkin takut dia. Karawang kan pusat Laskar Rakyat.

PLAYBOY: Selain kliping, apa lagi yang biasanya Anda kerjakan di rumah ini?

PRAM: Bakar sampah. Pagi biasanya setengah lima saya bangun. Masih sepi semua dan belum tentu ada kopi. Saya nempel-nempel kliping. Sudah ada delapan meter mungkin kliping. Jadi nanti kalau orang cari apa-apa, klipingnya sudah disusun menurut abjad. Dan saya rasa nggak ada yang bikin kliping. Itu nanti siapa saja boleh kalau mau cari informasi di kliping. Tapi masalahnya geografi saja. Saban hari bertambah.

PLAYBOY: Apa kenikmatan membakar sampah?

PRAM: Ada kenikmatannya, aku bisa bilang: ‘lihat, aku bisa hancurkan kau!’ [tertawa].

PLAYBOY: Selain kliping dan bakar sampah, apa lagi yang Anda kerjakan?

PRAM: Jalan. Mondar-mandir. Membetulkan cabang-cabang yang nggak perlu, dibabat. Saya senang di sini, nggak terganggu keributan kota. Melihat ke sana lihat rumput, lihat kolam ikan, kolam renang. Nggak ada keinginan apa-apa lagi.

PLAYBOY: Siapa yang mengajak Anda pindah ke sini?

PRAM: Ada orang dekat menawarkan tanah. Saya mau karena jauh dari Jakarta. Nggak kuat saya di Jakarta. Di sini sejuk. Anginnya sehat. Jakarta itu air tanahnya sudah campur tai semua. Itu masalah pokok. Belum macetnya. Belum kejahatannya. Sepanjang jalan kejahatan melulu.

PLAYBOY: Kenapa tidak kembali ke Blora?

PRAM: Nggak. Kalau pulang ke Blora, ingat kesedihan waktu kecil. Jam setengah lima sudah harus belanja ke pasar. Pulang terus sekolah. Pulang sekolah, cari kayu bakar. Ngurus kambing, ngurus adik-adik. Apalagi waktu orangtua meninggal semua. Semua jatuh ke tangan saya, sebagai anak pertama. Nyekolahkan, kasih makan.

PLAYBOY: Masih ingat tulisan pertama Anda?

PRAM: Kan sudah dibakari militer. Ada waktu di SD saya nulis naskah. Saya kirim ke penerbit Kediri, Tan Kun Shui. Ditolak [tertawa]. Ceritanya macem-macem. Nggak bisa mengingat lagi. Ya itu pembakaran tahun ‘65. Kehilangan banyak naskah.

PLAYBOY: Tidak pernah mencoba rokok selain Djarum?

PRAM: Nggak. Kebiasaan saja. Ini Djarum asbaknya. Pernah coba rokok putih. Nggak cocok.

PLAYBOY: Sewaktu di Pulau Buru kan tidak selalu bisa beli rokok?

PRAM: Menanam sendiri tembakaunya. Kerasnya persetan. Dan kulitnya, kalau nggak ada kertas, Injil segala dipakai [tertawa].

PLAYBOY: Di Pulau Buru, tahanan hanya boleh membaca buku agama. Bagaimana rasanya membaca buku tentang hal yang tidak Anda percaya?

PRAM: Ya makin tidak percaya [tertawa].

PLAYBOY: Hasil membaca buku tentang Hindu dan Budha melahirkan Arok Dedes. Kenapa tidak ada buku hasil refleksi Anda tentang hubungan Islam dan Kristen?

PRAM: Waktu itu belum jadi persoalan. Belum ada Kristen-Islam.

PLAYBOY: Selama di Pulau Buru, tidak pernah memikirkan kebutuhan biologis?

PRAM: Nggak berbuat apa-apa. Diterima saja semuanya sebagaimana adanya. Semua kan dicurahkan pada tulisan.

PLAYBOY: Apa yang paling tidak bisa Anda lupakan dari Pulau Buru?

PRAM: Banyak. Antaranya saya menemukan mangga di pinggir kali. Lantas, saya kembangbiakkan. Jadi banyak. Nanti kalau ke Buru, ada pohon mangga, ingat saya [tertawa]. Tadinya nggak ada di pedalaman. Saya melihara ayam delapan. Telornya itu untuk beli rokok, beli kertas, beli karbon di pelabuhan. Karena saya kan di pedalaman. Dan saya senang sekali, sekarang Pulau Buru jadi gudang beras Maluku. Pekerjaan kami itu. Jalanan kami bikin sepanjang 175 km. Belum sawahnya. Belum irigasinya. Belum ladangnya. Kalau sore itu udaranya dihiasi pelangi. Kalau hujan, air dengan keras turun ke bawah. Ikan melawan arus air hujan. Tinggal tangkap saja. Berkarungkarung itu [tertawa]

Pramoedya Ananta Toer sangat berminat dalam penulisan sejarah.

Dia bisa melakukannya lewat non fiksi dan fiksi. Lewat novel dia melukiskan sejarah agar tidak membosankan. Hidup Pram adalah sejarah itu sendiri. Sejarah tentang kekuasaan yang sewenang-wenang dan menindas. Sejarah tentang manusia yang menolak belenggu sejarah dengan kuasa alam nalarnya, yakni lewat jalan menulis.

YANG HILANG DAN DIMUSNAHKAN DARI PRAM

Kuasa pengetahuan lebih dahsyat maha terjangnya daripada kuasa fisik yang represif. Terbukti karya Pram tetap dibaca orang meski dia dibelenggu di Buru, gulag yang dipagari laut. Berikut beberapa naskah Pram yang hilang dan dimusnahkan:

§ Sepoeloeh Kepala Nica [1946], hilang di tangan penerbit Balingka, Pasar Baru, Jakarta, 1947.

§ Bagian dari Di Tepi Kali Bekasi, dirampas Marinir Belanda, 22 Juli 1947.

§ Mari Mengarang [1954], tak jelas nasibnya di tangan penerbit, 1955.

§ Kumpulan Karja Kartini, dibakar tahun 1965, bagian-bagiannya sempat diumunculkan beberapa kali.

§ Wanita Sebelum Kartini; dibakar Angkatan Darat pada 13 Oktober 1965.

§ Panggil Aku Kartini Sadja, jilid III dan IV dibakar Angkatan Darat pada 13 Oktober 1965.

§ Sedjarah Bahasa Indonesia.

§ Satu Pertjobaan [1964]; dibakar Angkatan Darat pada 13 Oktober 1965.

§ Lentera [1965], tak jelas nasibnya di tangan penerbit.

§ Kumpulan Cerpen Bung Karno.

§ Dua jilid terakhir trilogi Gadis Pantai.

Jakarta, 7 Januari 2009

Sedihnya, Perpusku Terbengkalai

Ah, aku benci diriku sendiri. hiks hiks hiks, jadi iri setelah menemukan Bang Bahtiar juga sudah sukses dengan gerakan 1.000 buku. Dia berjalan jauh dengan dunia maya dan impian memberinya.
Padahal waktu dulu bertemu di Semarang kami sama-sama baru mulai proyek perpustkaan. Aku akan mengejarnya. Janji, aku akan mengejarnya. Memberi peluang untuk anak-anak tetangga desaku untuk membaca.
Adakah yang berkeinginan sama? Harus dibenahi jaringanku. Untuk perpusku, untuk anak-anak dunia….. Semangat kumpulin donatur lagi, Puput!!!!!

Coin a Chance

Good idea

Good idea

Tak sengaja menemukan blog teman lamaku http://www.bahtiar.web.id/ sebenarnya seh posisi kami sama-sama di Jakarta sekarang, tapi belum sempat ketemu. Sosok Bahtiar selalu kuingat sebagi teman yang punya jiwa sosial tinggi. Ternyata tak berubah hingga sekarang. Gerakan yang dibuatnya sekarang adalah coin a chance!!!! ide cemerlang, mengumpulkan uang receh untuk membantu anak-anak yang kurang mampu bersekolah.

Sebenarnya, aku sudah lama mengumpulkan uang koin. Sebal jika di dompetku terdapat banyak receh, jadi tebal. Jadi aku selalu punya wadah untuk menyimpan uang receh kembalian berbelanja. Biasanya, aku memberikan uang receh pada ibuku setiap ibuku berkunjung ke tempatku. Atau setiap kali aku pulang. Bisa buat kembalian di warung pulsa ibuku.

Ternyata, uang receh jika dikumpulkan bisa bermanfaat besar. Hemmm terpikir membuat bak penampungan sampah untuk tempat tinggalku sekarang. Aku heran aja masyarakat di gang aku tinggal bisa nyaman dengan rumah yang tidak punya tempat smaaph. Setiap pagi, sampah di bungkus plastik dan dikumpulkan di pinggir jalan. Nggak sehat kan karena terbuka gitu. Padahal anak-anak bermain di pinggir jalan itu juga.

Minggu ini Ulin datang dari kampung, akan kuajak dia. Setelah itu ke pak RT ah, sampaikan gagasan untuk membangun penampungan sampah. Tapi mungkin juga pengolahan sampah. Nggak perlu narik iuran banyak-banyak. Aku bawa aja konsep coin a chance-nya Abang Bactiar. Yuhuiiiii….. thanks a lot Bang!!!!

« Older entries