3 bulan yang lalu, Dewiq Zahra menghubungi lewat FB meminta dukungan untuk mendampingi anak didiknya lomba cipta karya puisi. Sari, anak didiknya, adalah tuna netra tak bisa melihat. Jadi sejak awal saya sudah banyangkan puisinya akan menarik dari sudut pandang tuna netra.
Bukan hal yang mudah bagi kami bertiga untuk menjalani latihan. Sari akan menulis dengan tulisan braile. Lalu, Mbak Dewi istrinya Linarto Domo ini memindahkannya dalam tulisan biasa biar bisa saya baca. Tahu apa yang saya katakan ketika pertama kali disodori puisi Sari? “Buang semua, ini bukan puisi bagus. Tapi surat curhat Sari,” kata saya.
Agak susah sebenarnya menjembatani Mbak Dewi yang aslinya bukan penggemar puisi. Sari yang tidak bisa melihat. Saya yang keras kepala dengan standart yang saya ciptakan sendiri. Bukannya membenarkan puisi Sari, saya berikan contoh puisi2 bagus dari Yuotube. “Dengarkan saja puisi-puisi ini kepada Sari selama seminggu….. Setelah itu minta dia buat lagi,” pesan saya.Saya tahu Mbak Dewi bingung, karena saya diam dan tidak menghubungi.
Saya tunggu waktu, sementara waktu lomba semakin dekat. Seminggu kemudian, Sari menulis lagi. Lebih singkat. Baru kemudian saya arahkan. Mbak Dewi juga mengedit disana-sini. Jadilah puisi karya Sari.PR selanjutnya, mengajari Sari untuk membaca. Lewat rekaman, saya dengarkan kemudian mengedit intonasi dan tempo. Yang paling stress adalah Mbak Dewi. Berada di antara kami berdua.
Saya tentu saja mengajari di sela-sela waktu saya. Kadang tak bisa langsung menjawab ketika Mbak Dewi minta bantuan. Sementara Sari baca puisinya kalau didengarkan ke Pelukis Malam langsung membuatnya tersenyum getir.Lomba pertama tingkat kabupaten, Sari langsung lolos ke tingkat propinsi karena tak ada musuhnya. Yang saya puji adalah Mbak Dewi. Diantara guru sekolah luar biasa di Blora, hanya Mbak Dewi yang mau mendampingi muridnya. Bersusahpayah mencoba mencari jalan (Dan alhamdulillah, sayalah yang dipilih menjadi jalannya.)
12-13 Juli 2016, Sari maju tingkat Propinsi. Kali ini seleksi ketat. Sari harus lolos 8 besar untuk maju ke babak 3 besar. Pagi-pagi mbak Dewi menelpon meminta saya ‘mengantar’ Sari lomba, Sari deg-degan katanya. “Hai Sari, setiap kali saya baca puisi saya akan berdiri tenang di tempat membaca puisi. Tarik nafas, lalu saya lihat semua mata yang akan menjadi juri dan penonton. Dalam hati saya katakan, saya akan membuat mata dan hati kalian tergetar. Saya tahu kamu tidak bisa melihat, lakukan yang sama berdirilah yang tenang. Lalu dalam hati bilang, saya akan berikan yang terbaik. Jangan risaukan kalah atau menang. Lakukan saja seperti saat latihan. Kamu sudah melalui yang orang lain tidak bisa lalui. Kamu mau belajar, kamu adalah pemenang,” kata saya lewat telepon.
Hari ini, mata saya memerah membaca pesan Mbak Dewi. “Sari juara satu, Mbak Puput Angsa Putih. Dan akan maju final tingkat nasional di Manado 28 Agustus- 4 September, Terimkasih tiada terkira untuk Mbak Puput,” tulis mbak Dewi.
Betapa baiknya Allah memberi kesempatan bagi saya untuk mengajar berbagi ilmu. Saya belum berkenan menjadi guru, tapi Allah selalu mengirimkan murid untuk saya. Murid istimewa yang membuat saya juga belajar darinya. Buta bukan alasan untukmu berhenti berlatih, Sari gurunya. Tak bisa dan tak punya bukan berarti alasan untuk berhenti memberi, Mbak Dewi contohnya. Selalu ada jalan jika kita mau berbagi, jangan tutup hati….. 
Iklan