Untuk Calon Suamiku, Yan Fathoni alias Pelukis Malam

Kutulis surat terbuka agar Engkau tahu jawaban atas per tanyaanmu. Apakah aku mencintaimu? Apakah aku merindukanmu? Atau apakah aku malu punya calon suami sepertimu?

Dari kecil, dunia laki-laki sangat dekat denganku. Kakakku tertua dan perempuan satu-satunya berselisih usia 10 tahun denganku. Dia tidak cukup banyak waktu untuk mengajari aku tentang menjadi perempuan. Jadi aku tumbuh bersama tiga kakak laki-lakiku. Kakakku Budi Cahyono paling banyak menghabiskan waktu denganku. Aku biasa bergaul dengan cara laki-laki. Karena kakakku selalu mengajakku menggembalakan kambing, mencari kayu bakar, mencari ikan di sungai, menggelas benang lalu bermain layang-layang, dia selalu mengajakku. Tegar dan berani, itu kata Bapak tentangku. Jadi kemanapun aku pergi, aku tidak takut. Aku yakin aku bisa bertahan karena tidak ada yang perlu kutakutkan.

Sebagai wanita yang terbiasa sendiri, aku merasa percaya diri berjalan sendiri. Bahkan makan di tempat makan sendirian, yang menurut sebagian besar wanita tidak nyaman, aku menikmatinya. Bertahun-tahun aku menjalani kesendirian. Karena sebelum dekat denganmu kedekatanku dengan lelaki lain tepisah jarak. Aku senang dengan kesendirianku. Ingin makan apapun aku bisa. Ingin nonton film berapa kalipun dalam seminggu aku mampu. Ingin beli buku yang masih dalam daftar terbit bulan depan, sudah kupesan sebelumnya. Jadi apa aku masih butuh pendamping?

Sampai dengan kepindahanku ke Jakarta tahun 2008, aku tidak merasa aneh dengan kenikmatan hidup sendiri. Memasuki tahun 2009, Bapak dan Ibu yang mulai kuatir karena aku sendirian di perantauan. Mereka memintaku segera menikah. Bahkan jika harus mendahului kakakku @budi cahyono itupun tak apa. Aku awalnya risih dengan permintaan mereka. “Jangan marah padaku, karena aku tidak pernah bilang aku tidak ingin menikah. Aku hanya belum bertemu dengan jodohku,” itu jawabanku setiap kali pembicaraan jodoh kembali bergulir.

Ramadhan 1430 H, aku merasakan kenikmatan hidup sendiri ini harus diakhiri. Aku tahu, jodohku sudah disiapkan. Hanya saja aku belum berniat memanggilnya. Aku mulai takut, jika kubiarkan menikmati hidup sendiri, aku akan lalai memenuhi sunnah Rosul. Aku lebih takut tidak menaati kewajibanku sebagai Hamba Allah. Lalu perlahan aku mulai berdoa untuk memohon jodohku. “Ya Allah jika jodohku belum pernah Engkau pertemukan denganku maka pertemukanlah. Jika memang sudah bertemu maka dekatkanlah. Jika memang sudah dekat, maka mudahkanlah. Ajari aku bersyukur atas segala rezekiMU,” kulantunkan setiap hari selesai sholat doa itu.

Getar yang kurasa, adalah ketaklukkan seorang hamba atas tuntunanNYA. “Ya Robb,Dari segi usia dan kematangan baik lahir dan batin, sudah jatuh hukum wajib untukku menikah segera. Demi rinduku pada Muhammad-MU nikahkanlah aku,” doaku di lain waktu. Aku ingat membeli buku pengantin Al-quran pada tahun yang sama. Menikah, itu fitrah. Manusia diwajibkan menikah karena ada tuntunan menyebarkan syariat dengan lebih luas dan lebih baik. Meneruskan keturunan. Aku menangis sedu sedan, merasakan kesendirian.

Pernah seusai ramadhan aku mengaji di Masjid Sunda Kelapa, Ustad Bobby kala itu yang mengajar. Baru saja terjadi gempa Padang. Di pengajian itu, Ustad Bobby menantang niatan amal kami. “Jika memang mau meminta sama Allah, berikan dulu apa yang kalian punya untuk jalan Allah. Sekarang bukalah dompet, ambil nominal uang tertinggi taruh di tangan kanan dan tangan kiri untuk nominal uang terendah. Buktikan cinta kalian, berapa yang kalian berikan untuk saudara kalian di Padang sana?” kata ustad. Aku datang ke pengajian itu bersama @Azizie Nur faridha dan @Ulin Ni’mah.
Kumasukkan dua uang di tangan kanan dan kiriku. Sebelumnya kugenggam erat. “Ya Robb aku ingin jodohku, kutebus keinginanku dengan amal ini,” ujarku dalam hati. Sekian detik, aku dan @Azizie saling bertanya, doa apa? Keinginan kami sama, jodoh. Seminggu kemudian, @Azizie dilamar @Pangeran Kodok, mereka sudah menikah sekarang. Dan Ulin yang berdoa untuk tahun baru perkerjaan baru terkabul juga. Tiga minggu setelah doa itu, 20 November 2009, Allah mempertemukan kita.

Di pertemuan kedua, kau mengajakku pulang ke Jombang. Entah dapat bisikan darimana, aku yakin kamulah orangnya. Jawaban atas doa-doaku. Dari semua kesenangan dan pertengkaran kita, keluarga kita merencakan pernikahan kita. Kita dipertemukan, didekatkan, dimudahkan dalam waktu sangat singkat. Itu ajaib!!!

Jika aku sudah menunggumu sekian lama, bagaimana bisa aku tidak mencintaimu?

Jika alasan menantimu adalah membuktikan ketaatanku pada Sang Khalik, dan membalas cinta Rosul padaku, bagaimana aku tidak merindukanmu?

Aku tidak biasa mengutarakan cinta di depan umum, di dinding FB, atau di depan teman-temanku itu semua karena aku dibentuk oleh kemandirianku. Dengan cara lain aku akan membuktikan cintaku padamu. Sekarang kubuktikan janjiku. Setelah kau tepati janjimu untuk belajar tafsir lagi. Aku sangat bangga, memiliki imam sepertimu. Saat aku meminta hadiah sholat sunnah dua rokaat seusai ijab dan kau bacakan surat Ar Rahman di malam pertama kita kelak, kau berjanji memberikanku penjelasan tafsir Ar Rohman tak sekedar membacakannya.

Sekarang, aku semakin tidak sabar menunggu hari itu tiba. Saat rinduku pada Muhammad terbalas. Saat malaikat menjadi saksi ketaatan kita akan perintahNYA. Saat pintu Arsh dibuka lebar untuk segala doa. 25 Juli 2010……………………………………
Maka nikmat Tuhan-mu manakah yang engkau dustakan?

Iklan