Komponis Kehidupan

Laki-laki dekil, kurus, berkaus hitam dipadu celana jeans yang mulai pudar warnanya, sibuk diantara pemain biola, dan gitar. Penutup kepala Eiger yang juga mulai pudar warnanya membuat dia semakin tenggelam. Hanya penunjuk yang dia bawa sesekali dinaikkan ke atas bisa jadi penanda keberadaannya, Sang Komponis.
Memainkan lagu Bendera dari Coklat Band, grup musik yang berlatih di Taman Suropati setiap minggu sore itu belum menemukan gubahan yang tepat. Berkali-kali mereka berhenti di tengah latihan. Dan Sang Komponis memberikan arahan. Menggubah nada-nada dan memadukan suara. Takjub aku dibuatnya.
Iri juga sebenarnya, karena sebelum biola digesek, dia bisa membayangkan begaimana jadinya suara yang akan dihasilkannya. Dari kecil kemampuan bermusikku payah, hingga kini hanya bisa menjadi penikmat dan kritikus. bukan tidak pernah mencoba berlatih, dari suling, pianika, gitar, dan biola sudah poernah aku coba. Diajari oleh guru, kakak, dan temanku.
Bukan hanya mereka daya yang putus ada mengajari, aku juga putus ada hingga aku berhenti. Secara teori aku bisa melaluinya dengan baik. Tapi ketika mempraktikkannya jariku tidak bisa menari dengan baik. Mengikuti tempo musik saja aku kualahan. Oh ya aku juga pernah ikut latihan gamelan. Itupun aku sering dimarahi karena aku tidak bisa mengikuti suara gendang. Membuat latihan buyar.
Aku percaya bahwa setiap anak terlahir dengan bakatnya masing-masing. Dan bakat itu harus harus ditemukan dan diasah menjadi sesuatu. Dari kelas 3 SD aku tahu aku memiliki kertertarikan pada tulisan. Puisi Surat dari Ibu adalah puisi yang pertama kali kukenal, kuhafal, dan kudeklamasikan. Terasa lembut hingga aku berfikir Asrul Sani, sang penciptanya, adalah perempuan. Aku tahu aku bisa menulis dari sanalah kiranya. Seusai membaca karya-karya pujangga, melihat kejadian menarik, jariku menari menuliskan kata-kata seperti nada yang tak bisa dibendung alirannya. Mirip kelakukan sang Komponis saat menggubah komposisi sebuah lagu.
Dari ketukan suara keyboard aku tahu bagaimana suasana hati penulisnya. Seperti lagu buatku. Buatku menyusun tulisan seperti menyusun nada-nada yang dilakukan Sang Komponis. Musik ada di seluruh alam, yang harus dilakukan hanyalah mendengarkannya. Saat kita menemukan nada kehidupan, maka kita akan siap menjadi komponis. Komponis Kehidupan.

Taman Suropati, 2 Agustus 2009.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.